BAB I
PENDAHULUAN
Bakti tani (baktan) adalah jenjang pengkaderan formal yang dilakukan untuk membangun ikatan emosional antaranggota KMBP-Faperta Unhas dan masyarakat tani.
Tujuan baktan terdiri atas dua tinjauan instruksional, yaitu:
o Tinjauan Instruksional Umum (TIU)
ü Peserta mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai keprofesian dalam upaya mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
o Tinjauan Instruksional Khusus (TIK)
ü Peserta mampu menumbuhkan ikatan emosional antar sesama anggota KMBP-Faperta Unhas.
ü Peserta memiliki kepekaan sosial.
ü Peserta dapat melakukan interaksi langsung dengan masyarakat tani.
ü Peserta mengetahui sosial budaya masyarakat tani.
ü Peserta mengetahui kelembagaan masyarakat tani.
Bakti Tani juga merupakan salah satu syarat agar mahasiswa Budidaya Pertanian dapat mengikuti kegiatan kokurikuler sebagai tambahan nilai akademik yang diadakan oleh jurusan. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan Bakti Tani sangat penting untuk diikuti.
Himpunan Mahasiswa Agronomi (Himagro) Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar mengadakan kegiatan Bakti Tani ‘07 (baktan) pada hari Rabu-Minggu, 9-13 Januari 2008 di Desa Taccipong, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Desa Taccipong masuk dalam kategori wilayah pertanian dengan ciri penduduknya memiliki lahan dengan luas tertentu, menanami lahannya dengan jenis tanaman pertanian tertentu, dan memiliki alat-alat pertanian tertentu. Hal ini berdasakan definisi yang dikemukakan oleh K. Yong, wilayah adalah daerah geografis yang membentuk suatu kesatuan budaya, mula-mula seragam secara ekonomi dan kemudian juga dalam pemikiran-pemikiran, pendidikan, rekreasi, serta dapat dibedakan dengan daerah-daerah lain.
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian proses penyambutan mahasiswa baru angkatan 2007. Kegiatan ini dilaksanakan setelah ujian semester dan dalam masa liburan.
BAB II
ISI
2.1 Pra Baktan
a. Binjas
Binjas atau bina jasmani merupakan sebuah kegiatan berupa olahraga bersama untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau kondisi tubuh yang mampu bekerja dalam waktu yang cukup lama. Binjas dilaksanakan sebagai bentuk persiapan fisik dan mental dalam menghadapi baktan. Yang terlibat dalam kegiatan ini, yaitu panitia, peserta baktan ’07 yang meliputi angkatan 2007 dan angkatan-angkatan yang belum mengikuti baktan, serta seluruh warga KMBP-Faperta Unhas. Binjas mulai dilaksanakan beberapa bulan sebelum baktan dengan intensitas pertemuan tiga kali dalam sepekan. Kegiatan ini dilangsungkan sekitar pukul 06.00-07.30 WITA pada hari Selasa dan Sabtu serta 16.00-18.00 WITA pada hari Kamis. Namun, atas permintaan peserta baktan, kegiatan dipatenkan pada pukul 16.00-18.00 WITA selama hari-hari tersebut.
Definisi masalah adalah ketidaksesuaian harapan dengan kenyataan. Masalah yang dihadapi selama binjas, yaitu kapasitas fisik dan mental peserta yang tidak sama. Meskipun peserta yang sakit dibolehkan datang tapi tidak ikut binjas dan diberikan kegiatan lain yang sama bermanfaat, tetapi tidak sedikit peserta yang kondisinya menurun setelah mengikuti binjas. Kegiatan ini juga tidak memedulikan kondisi cuaca. Dalam kondisi apapun, kegiatan ini tetap berlangsung. Hal tersebut mengakibatkan turunnya minat dalam mengikuti kegiatan tersebut di hari-hari selanjutnya. Terkadang pula panitia mengulur-ulur waktu dengan alasan hendak menyampaikan sesuatu sehingga peserta pulang lewat dari jadwal seharusnya.
b. Pembekalan
Pembekalan bertujuan agar peserta mendapatkan gambaran seperti apa lokasi dan kegiatan yang akan dilaksanakan. yang terlibat dalam pembekalan adalah seluruh peserta baktan dan Steering Comitee (SC) baktan, yaitu kader yang berperan sebagai pengarah pengkaderan yang diamanditir oleh pengurus Himagro KMBP-Faperta Unhas.
Materi yang diberikan, yakni gambaran umum lokasi camp baktan ’07, kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan, serta apa saja yang harus dipersiapkan. Kami juga diberi tahu kode etik jurnalis dalam menginterview responden dimana perlu diperhitungkan kondisi psikologis responden, jangan menyerang responden dengan pertanyaan beruntun, dan tidak boleh menjanjikan apapun kepada responden. Kegiatan yang akan dilakukan antara lain observasi lapang (field observation), lintas alam (cross land), serta pentas seni dan olah raga.
Stake holder yang akan peserta jumpai di lokasi antara lain kepala desa, petani, pedagang, LSM, koperasi, dan tokoh masyarakat sebagai narasumber dalam kegiatan observasi lapang (field observation). Aspek-aspek yang akan digali menyangkut sosial budaya masyarakat tani setempat yang meliputi ekonomi, politik, dan reliji; kelembagaan setempat seperti KUD, LSM, dan kelompok tani; keprofesian yang meliputi sistem-sistem pertanian, ritual yang dilakukan sebelum penyemaian benih atau pascapanen.
Dijelaskan bahwa pada kegiatan lintas alam (cross land) peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok dan bersama pendamping akan disebar ke segala penjuru mencari dan membaca tanda, melewati rintangan-rintangan, dan singgah pada pos-pos yang telah ditentukan.
Setiap malam akan diadakan Agroria dimana peserta dan warga KMBP tampil menghibur warga Desa Taccipong. Warga Taccipong juga akan ambil bagian dalam kegiatan ini yang bertujuan sebagai bentuk bina akrab antara warga KMBP dan masyarakat tani. Penyuluhan melibatkan seluruh peserta, warga KMBP, dan warga Desa Taccipong. Selain itu diadakan pula out bond, pesta rakyat, reboisasi, dan temu pisah alumni.
Masalah selama pembekalan, yaitu minimnya jumlah peserta yang hadir. Namun, sekiranya tidak menurunkan kualitas yang diharapkan.
c. Latihan dan Persiapan
Latihan dan persiapan bertujuan agar pelaksanaan kegiatan Bakti Tani ‘07 lancar sesuai yang diharapkan. Yang terlibat dalam latihan dan persiapan antara lain seluruh peserta baktan, panitia seksi acara, dan panitia seksi perlengkapan. Yang dilakukan selama latihan dan persiapan antara lain mempersiapkan perlengkapan pribadi dan kelompok yang akan dibawa serta latihan persembahan kelompok dan angkatan. Masalah yang dihadapi, yaitu kurangnya animo dan keseriusan peserta dalam mengikuti latihan dan persiapan.
2.2 Baktan
a. Pelepasan
Pelepasan peserta Bakti Tani ’07 dilangsungkan pada Rabu, 9 Januari 2008 sekitar pukul 12.00 WITA di Lab. III Budidaya Pertanian oleh Bapak Ir. H. Amin Ishak, M.Sc. selaku Ketua Jurusan Budidaya Pertanian dan Ibu Rusdiana selaku dosen pembina yang dihadiri oleh seluruh peserta dan beberapa panitia baktan. Setelah itu kami bergegas menuju green house dengan memakai seragam baktan yang berwarna kuning cerah, memakai id card, menyematkan pin baktan di dada sebelah kiri, memakai gelang berwarna hijau dan orange yang dapat menyala dalam gelap, dan memakai topi caping. Sebelum berangkat, kami diberi instruksi terakhir oleh SC dan melakukan doa bersama. Masalah yang dihadapi selama proses pelepasan, yakni suasana yang kurang semarak sehingga menurunkan semangat peserta baktan ‘07.
b. Pemberangkatan
Pemberangkatan dilangsungkan pada hari yang sama sekitar pukul 13.00 WITA di area Agro kompleks. Kerel dan perlengkapan peserta dinaikkan ke atas bus. Satu bus ditumpangi oleh beberapa warga KMBP, dua bus ditumpangi oleh peserta dan SC. Ini merupakan pemberangkatan yang kedua. Sehari sebelumnya beberapa panitia, SC, dan warga KMBP melakukan pemberangkatan pertama untuk melakukan persiapan di lokasi. Sedangkan dosen pembina sebagai pendamping dan pengawas mahasiswa baru akan melakukan pemberangkatan beberapa hari setelahnya karena sesuatu dan lain hal.
Masalah yang dihadapi selama pemberangkatan adalah kurangnya ketegasan pada peserta yang kurang disiplin sehingga sempat merepotkan panitia dan mengulur waktu perjalanan yang telah dijadwalkan.
c. Pembukaan
Setelah menikmati perjalanan yang berkelok-kelok selama 6-7 jam dengan jalur berlikuk-likuk yang cukup menegangkan dan menyempatkan singgah di mesjid ketika masuk waktu shalat ashar, akhirnya kami tiba di Desa Taccipong, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan sekitar pukul 19.00 WITA. Kami tercengang dengan pemandangan yang disajikan dari balik jendela. Di kanan kiri tampak rumah-rumah penduduk. Rumah panggung yang terbuat dari kayu. Minimnya sumber penerangan membuat nyaris gelap gulita. Bus terus melaju melintasi jalan berkerikil yang belum diaspal.
Bus-bus sewaan tadi meninggalkan kami. Barang-barang dibawa oleh panitia ke lokasi camp. Kami diturunkan beberapa radius dari lokasi. Kami berbaris sesuai instruksi korlap (koordinator lapangan). Topeng dan topi caping membuat kami sukar dikenali, tapi mengundang perhatian warga untuk mendekat. Kami saling bergenggaman erat meniti jalan yang berkerikil tajam. Kami disambut lolongan anjing-anjing liar. Bila di kota pada jam itu kami sibuk menonton televisi atau menjelajahi mall dan resto, disini kami yang ditonton oleh warga Taccipong. Mereka keluar dari rumah khusus melihat penampilan kami yang mencolok dengan memakai baju berwarna kuning cerah, topi caping, dan topeng berbulu. Terdengar celotehan dan cekikikan warga yang sedari tadi bersantai di teras rumahnya dan tiba-tiba melihat kedatangan kami. Di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang tak akan terlupakan. Bintang bertaburan di langit malam yang cerah, pohon kelapa tumbuh menjulang di kanan kiri jalan, dan pemakaman tampak dari balik rumput-rumput di beberapa sudut jalan yang tidak beraturan membuat jantung kami berdegup kencang.
Setelah kami berjalan sekitar satu kilometer, kami tiba di lokasi camp. Kami berhenti di depan sebuah lapangan yang telah dipenuhi banyak orang yang sepertinya telah menunggu-nunggu kehadiran kami. Kami disambut penduduk Desa Taccipong dan warga KMBP dengan tepuk tangan yang meriah. Acara pembukaan Bakti Tani ’07 pun dimulai. Kami membuat formasi sesuai instruksi seksi acara. Mahasiswi peserta baktan ’07 mengawalinya dengan tari pembuka. Ternyata tidak mudah menari di atas rumput, dengan mata tertutup topeng yang membuat jarak pandang berkurang, dan disoraki oleh sekerumunan orang. Setelah itu mc (master of ceremony) membacakan susunan acara. Sambutan-sambutan dari Bapak Sekertaris Desa (Sekdes) yang mewakili Kepala Desa Taccipong sekaligus membuka acara Bakti Tani ‘07, ketua himpunan, ketua panitia baktan ’07, dan ketua BPO (Badan Pengawas Organisasi). Dilanjutkan dengan tari Indologo dan upacara penaikan bendera Himagro. Penonton yang terdiri dari warga KMBP dan warga Desa Taccipong bersorak-sorak ketika mercun ditembakkan ke atas langit berbintang dan meninggalkan bunga api yang berwarna-warni. Bapak Sekdes menyalakan api unggun sebagai simbol dibukanya kegiatan Bakti Tani ’07 di Desa Taccipong, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tidak ada masalah selama pembukaan. Meskipun ada beberapa konsep acara yang diubah, tetapi pembukaan berjalan lancar dan aman.
d. Observasi Lapang (Field Observation)
Berdasarkan Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, observasi berarti pengawasan, peninjauan, pengamatan; lapang berarti lokasi yang luas. Jadi secara etimologi observasi lapang dapat diartikan sebagai peninjauan lokasi. Tujuan diadakan observasi lapang, yaitu untuk menyesuaikan informasi dan gambaran yang peserta dapat sebelumnya dengan realita yang ada di masyarakat tani Indonesia serta menjelajah daerah baru dan mengenal tata kehidupan masyarakat di sepanjang perjalanan. Observasi dilaksanakan pada Kamis, 10 Januari 2008 sekitar pukul 09.00-12.00 WITA di Desa Taccipong dengan melibatkan seluruh peserta baktan ’07 dan seorang kakak pendamping.
Kami dibagi menjadi tujuh kelompok. Jumlah peserta baktan ’07 sebanyak 51 orang, 44 dari angkatan 2007 dan 7 orang dari angkatan 2006 dan 2005. Sebelum berangkat kami berdiskusi dengan pendamping mengenai hal-hal apa yang akan ditanyakan. Setelah itu kami berpencar. Ada yang bertamu di rumah-rumah penduduk, adapula yang mengganggu petani di kebunnya.
Berikut profil responden yang berhasil diinterview oleh kelompok 1:
Nama : Umi Kasmiati
Umur : 20 tahun
Profesi Suami : Petani jagung dan kakao
Anak : 1 orang (4 tahun)
Ny. Umi tinggal bersama 10 orang anggota keluarganya dalam satu rumah panggung. Beliau memiliki kebun jagung dan kakao warisan keluarga sekitar 1 ha. Dari sinilah beliau sekeluarga menggantungkan hidup. Tidak ada ritual khusus yang dilakukan sebelum menanam benih, hanya melakukan syukuran setelah memanen. Ny. Umi mengatakan bahwa Desa Taccipong memiliki nama lain yang lebih dikenal orang, yaitu Kampung Lappa. Beliau mengatakan bahwa penduduk yang tinggal di rumah panggung berprofesi sebagai petani, sedangkan yang tinggal di rumah batu berprofesi sebagai pegawai negeri. Namun, para pegawai tersebut juga masih memiliki kebun peninggalan orang tua.
Komoditas utama di Desa Taccipong adalah galung atau jagung (Zea mays). Ny. Umi menanam bibit jagung putih dan bibit jagung merah. Jagung putih biasanya untuk dikonsumsi sendiri, sedangkan jagung merah dijual kepada pedagang pengumpul. Sistem pertaniannya memakai sistem tumpang sari. Setelah memanen jagung, lahan ditanami tembakau, setelah itu ditanami jagung kembali. Jagung ditanam sekitar bulan November dan dipanen tiga bulan kemudian. Kakao (Theobroma cacao L.) dan tembakau (Nicotiana tabacum) dipanen sekitar bulan April-Mei. Beliau memakai pupuk UREA yang didapatnya dari pedagang pengumpul. Harga pupuk tersebut akan dipotong saat pembelian hasil panen. Beliau mengatakan kakaonya kurang berhasil akibat terkena penyakit busuk buah dimana kakao yang masih kecil berwarna kehitaman. Mereka masih memakai alat-alat konvensional seperti cangkul, sabit, dan parang. Beliau mengatakan bahwa di daerah tersebut tidak ada atau jarang petani sawah akibat irigasi yang kurang lancar serta minimnya sumber mata air.
Beliau menjual kakao keringnya sebesar Rp 15.000,00/kg, sedangkan kakao basah seharga Rp 11.000,00/kg. Modal beliau dapatkan dari penjualan hasil panen dan diberikan pinjaman oleh pedagang pengumpul. Beliau mengatakan Desa Taccipong tidak memiliki KUD dan kelompok tani. Bahkan kantor desa pun tidak ada akibat sengketa dengan pemilik tanah. Jadi, untuk musyawarah atau pertemuan biasanya dilakukan di rumah Kepdes atau Sekdes.
Nama : Hamdana
Profesi : Penjual kasur kapuk
Profesi Suami : Petani jagung dan jambu mete
Anak : 2 orang, sulung berumur 18 tahun duduk di bangku
kelas 2 SMA dan bungsu berumur 8 tahun duduk
di bangku kelas 1 SD
Ny. Hamdana sedang sibuk memasukkan kapuk pada kasur buatannya ketika kami meminta waktunya sebentar untuk diinterview. Beliau tinggal bersama suami, ibu, dan kedua anaknya. Mereka memiliki kebun jagung dan kebun jambu mete (Anacardium occidentale). Jagungnya ditanam dengan sistem tumpang sari dengan kacang hijau (Vigna radiata L.). Peralatan yang dipakainya juga masih tradisional dan masih sederhana. Mereka juga menggunakan pupuk UREA. Tidak ada ritual khusus, hanya syukuran dengan cara doa bersama dan potong ayam setelah panen. Namun, mereka mengalami masalah pada kebun jambu metenya. Jambu metenya diserang hama yang dinamakan waru-waru dan mereka kurang tahu bagaimana solusinya. Pendamping kami menerangkan bahwa jambu mete memang tidak baik ditanam di daerah yang bertanah lembap dan menyarankan beliau mengikuti penyuluhan yang diadakan keesokan harinya oleh mahasiswa Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Unhas. Beliau mengatakan baru kali ini Desa Taccipong didatangi oleh mahasiswa atau penyuluh. Sebelumnya memang ada penyuluhan dari dinas pertanian, tetapi sudah sangat lama.
Suami Ny. Hamdana mengatakan bahwa KUD di daerah tersebut tidak aktif lagi. Namun, dengan adanya KUD juga tidak cukup membantu karena pinjaman modal disertai bunga yang tinggi sehingga sangat sulit untuk dikembalikan. Beliau juga mengatakan bahwa sejak ketua kelompok tani meninggal, kelompok tani pun ikut mati. Petani berusaha sendiri-sendiri mengolah lahannya dengan bantuan anggota keluarganya. Dulu saat kelompok tani masih aktif, suplai pupuk dan obat-obatan antihama dari pemerintah sangat lancar. Namun, setelah kelompok tani menghilang, suplai tersebut pun terhenti.
Untunglah Ny. Hamdana memiliki pekerjaan sampingan dengan hasil yang cukup memuaskan, yaitu sebagai pembuat kasur kapuk. Ny. Hamdana membeli kapuk seharga Rp 50,00/buah, Rp 35.000,00/karung. Dari sini mereka sekeluarga mendapat penghasilan 8 juta-10 juta per tahun meskipun tidak secara berangsur-angsur.
Dari evaluasi yang kami lakukan di tenda induk bersama kelompok lain setelah melakukan observasi, ternyata KUD dan kelompok-kelompok tani di Desa Taccipong masih ada. Namun, sosialisasinya yang kurang sehingga akses informasi yang didapatkan oleh masyarakat tani tidak menyeluruh. Masalah yang dialami selama observasi lapang adalah masalah bahasa yang menghambat komunikasi.
Berdasarkan salah satu artikel dikemukakan bahwa peluang yang terdapat di Kabupaten Bone antara lain:
- Perkebunan kelapa sawit terdapat di Kecamatan Palakka, Amali, Ulaweng, Ajangale, Dua Boccoe, Tellu Siattinge dan Cenrana.
- Perkebunan vanili terdapat di Kecamatan Bontocani, Kahu, Kajuara, Tellu LimpoE dan Lamuru.
- Penyadapan getah pinus terdapat di Kecamatan Bontocani, Tellu LimpoE, Ponre, Lappariaja dan Bengo.
- Pengolahan rotan terdapat di Kecamatan Bontocani, Ponre dan Tellu LimpoE.
e. Agroria
Agroria bertujuan untuk menumbuhkan ikatan emosional peserta baktan ’07 dengan warga KMBP dan masyarakat tani di Desa Taccipong. Agroria juga bertujuan untuk mengasah kreativitas dan menguji mental. Agroria dilaksanakan empat malam selama baktan berlangsung mulai pukul 19.00-00.00 WITA. Bertempat di lapangan lokasi camp. Melibatkan seluruh peserta baktan ’07, warga KMBP, dan warga Desa Taccipong. Acaranya berupa musik, tari, puisi, drama, dan parodi.
Masalah yang dihadapi selama agroria, yaitu kendornya pengamanan sehingga orang-orang yang tidak berkepentingan bebas keluar masuk tenda selama acara berlangsung. Acaranya pun berlangsung sampai larut malam sehingga dapat mengganggu warga sekitar.
f. Out Bond
Tujuan dilaksanakannya out bond adalah menjalin kerjasama dan kekompakan diantara peserta. Out bond dilaksanakan pada Kamis, 10 Januari 2008 sekitar pukul 16.00-18.00 WITA di lapangan lokasi camp dengan melibatkan seluruh peserta baktan ’07. Tidak ada masalah yang dihadapi selama out bond. Peserta tampak menikmati setiap games.
g. Reboisasi
Reboisasi adalah penanaman kembali tanah yang gundul guna mencegah terjadinya erosi. Penanaman pohon dimaksudkan agar air hujan dapat ditahan dan diserap oleh akar-akar pohon. Pohon-pohon tersebut diharapkan mengurangi kadar CO2 di udara dan menggantikannya dengan O2 sehingga dapat mengurangi dampak pemanasan global (global warming).
Reboisasi dilaksanakan pada Jumat, 11 Januari 2008 sekitar pukul 09.00-11.00 WITA di bukit Desa Taccipong. Kegiatan ini melibatkan seluruh peserta baktan ’07, seluruh warga KMBP, dan Kepala Desa Taccipong. Tidak ada masalah. Peserta tampak antusias dengan kegiatan ini.
h. Diskusi Malam
Diskusi malam bertujuan untuk mengadakan dialog lepas antara mahasiswa Budidaya Pertanian Unhas dengan para petani di Desa Taccipong mengenai masalah-masalah yang dihadapi petani di bidang pertanian. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 10 Januari 2008 sekitar pukul 21.00-22.00 WITA di lapangan lokasi camp. Melibatkan seluruh warga Taccipong, peserta baktan ’07, dan seluruh warga KMBP.
Warga Taccipong menyaksikan pemutaran film yang bertema bagaimana menanggulangi hama PBK (hama penggerek buah kakao) serta masalah global warming. Dijelaskan bahwa hama PBK menyerang buah kakao yang masih kecil sehingga buah tampak kehitaman. Imago (telur) yang menempel pada kulit buah tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, menetas, lalu menembus placenta buah kakao dan masuk ke dalamnya. Setelah dewasa, ulat keluar dari buah kakao yang telah rusak. Buah kakao yang telah masak di pohon harus segera dipanen karena inilah yang menimbulkan hama PBK. Dengan rumus PsPsP (Panen sering, pemangkasan, sanitasi, dan pemupukan) diharap dapat memberikan solusi yang tepat dalam menanggulangi hama PBK. Masalah yang dihadapi selama diskusi malam adalah warga kurang aktif dalam berbagi pengalaman di bidang pertanian.
i. Penyuluhan
Penyuluhan bertujuan untuk memberi pelatihan dan peragaan supaya petani dapat melihat secara langsung praktek lapang yang dapat diterapkan di kebunnya. Kegiatan ini dilangsungkan pada Jumat, 11 Januari 2008 sekitar pukul 14.00-17.00 WITA di SD dan kebun kakao milik warga. Melibatkan seluruh peserta baktan, warga desa, dan warga KMBP serta dihadiri oleh dosen pendamping.
Penyuluhan disajikan melalui penjelasan langsung oleh tim penyuluh dan pembagian materi berupa print out. Warga atau peserta dapat langsung bertanya kepada pemateri. Materi penyuluhan antara lain pembuatan pupuk bokasi dari bahan-bahan organik yang ramah lingkungan, penyambungan pada batang kakao yang sudah tidak produktif demi mendapatkan kembali tanaman yang unggul, tehnik pemangkasan tanaman kakao, pembuatan insektisida dari buah bilah, dan pembiakan semut rang-rang untuk membasmi hama. Kegiatan ini berjalan lancar tanpa suatu halangan.
j. Cross Land (Lintas Alam)
Cross land merupakan kegiatan melintasi alam yang menyenangkan sekaligus penuh tantangan. Kegiatan ini dilangsungkan pada Sabtu, 12 Januari 2008 sekitar pukul 10.00-17.00 WITA di bukit dan hutan Desa Taccipong. Kegiatan ini melibatkan seluruh peserta baktan ’07, panitia, pemateri, dan warga KMBP.
Kegiatan yang dilakukan selama cross land, yaitu peserta dibagi menjadi 7 kelompok. Bersama dua pendamping mencari tanda untuk sampai ke pos-pos yang telah ditentukan. Diperlukan kekompakan dan kerjasama yang baik serta kejelian membaca tanda dan petunjuk agar tidak tersesat.
Ada 6 pos yang harus disinggahi. Pos 1 menyajikan materi mengenai Sosial Budaya Masyarakat Tani. Disampaikan bahwa kebudayaan merupakan suatu proses yang bersifat dinamis. Menurut E.B. Tylor (1871), seorang antropolog, kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan memiliki tiga wujud, yaitu:
1. Sebagai kompleksitas ide, gagasan, nilai, dan norma-norma.
2. Sebagai kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Pos 2 menyajikan materi mengenai ekonomi dan politik masyarakat tani. Sempat dijelaskan bahwa dampak pemakaian bibit unggul antara lain dapat menggeser varietas lokal, tananaman unggul menghasilkan bibit yang tidak unggul, tidak ramah lingkungan misalnya pada tanaman kapas transgenik, bakteri pembunuh hama tetap berada pada produk hasil olahan tanaman tersebut.
Pos 3 menyajikan materi mengenai kelembagaan masyarakat tani. Dijelaskan bahwa untuk membuat suatu lembaga di suatu daerah terlebih dahulu diperhitungkan kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat setempat.
Pos 4 menyajikan materi mengenai sistem-sistem pertanian. Dijelakan bahwa materi-materi yang telah didapatkan di pos-pos sebelumnya merupakan komponen-komponen yang ada pada sistem-sistem pertanian. Bila diandaikan sistem pertanian itu sebuah sungai, maka pada hulu kita akan mendapati ritual dan budaya yang dilakukan petani sebelum melakukan penanaman dan setelah melalukan panen. Pada hilir kita temukan pemasaran hasil panen, pengaruh kebijakan pemerintah, dan lembaga-lembaga yang turut berperan penting.
Pos 5 menyajikan materi mengenai pertanian berkelanjutan. Dijelaskan bahwa alam ini merupakan titipan anak cucu kita. Oleh karena itu, harus berkelanjutan pemanfaatannya dan pemeliharaannya. Pos 6 merupakan pos evaluasi.
Masalah yang dihadapi selama cross land adalah kurangnya penjelasan mengenai tanda-tanda yang dibuat sehingga membuat beberapa kelompok tersesat. Misalnya sayatan panah yang mengarah ke bawah antara pos 1 ke pos 2 yang mengecoh peserta untuk mengikuti. Tanda-tanda yang didapat selama cross land antara lain potongan tali pramuka, tanda panah biru, tiga tebasan di pohon, lapban hitam, dan tanda larang.
k. Pelepasan Alumni
Tujuan pelepasan alumni adalah simbol regenerasi warga KMBP-Faperta Unhas. Kegiatan ini juga dilaksanakan guna mengeratkan tali persaudaraan antargenerasi. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 12 Januari 2008 sekitar pukul 23.00 WITA di lokasi camp pada malam terakhir Agroria. Melibatkan alumni yang pada tahun ini tamat, dosen pembina, seluruh warga KMBP, seluruh peserta baktan, dan disaksikan oleh wara desa Taccipong.
Kegiatan yang dilakukan selama pelepasan alumni, yaitu pemasangan almamater sebagai simbolis, pemberian plakat oleh dosen pembina, pemberian tanda mata oleh alumni kepada dosen pembina dan pengurus himpunan, serta salam-salaman. Kegiatan ini berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun.
l. Penutupan Baktan
Penutupan baktan bertujuan sebagai tanda berakhirnya kegiatan Bakti Tani ’07 yang dilaksanakan di Desa Taccipong, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 13 Januari 2008 sekitar pukul 09.00 WITA di tempat pemandian di Desa Taccipong dan dilanjutkan dengan upacara penutupan di lokasi camp.
Diawali dengan prosesi sakral KMBP, yaitu ritual pemotongan rambut dan penyiraman “air keramat” pada seluruh anggota baru. Dilanjutkan dengan upacara penutupan.
Masalah yang dihadapi selama proses penutupan adalah beberapa peserta jatuh sakit dan tidak semua warga KMBP mengikuti upacara penutupan.
BAB III
PENUTUP
Kritik dan Saran
Disarankan kepada panitia untuk memilih lokasi Bakti Tani dengan perencanaan yang lebih matang, misalnya memilih lokasi dengan persediaan air yang memadai. Hal tersebut tentu tidak akan berhasil bila dikerjakan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak yang berkaitan dalam penyusunan program-program agar manfaat kegiatan sosial seperti Bakti Tani ini dapat menyeluruh dengan tidak merugikan pihak-pihak tertentu.